BIODISEL

BIODISEL
PENDAHULUAN
Kebutuhan energi nasional khususnya bahan bakar minyak (BBM) terusmeningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan semakin terbatasnya cadangan sumber daya minyak bumi, Indonesia harus mengimpor BBM dalam jumlah besar untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar minyak di sektor transportasi dan energi.bPada tahun 2005, konsumsi minyak solar di Indonesi amencapai 70.000 kiloliter per hari atau setara dengan 26 juta kiloliter per tahun. Padatahun yang sama, produksi minyak solar dalam negeri tidak lebih dari 13 juta kilo liter per tahun, sehingga diperlukan impor minyak solar lebih dari 13 juta kilo liter. Dengan menyimak pola konsumsi minyak solar yang terus meningkat khususnya pada sektor transportasi, diperkirakan bahwa volume impor minyak solar ini akan terus meningkatbila tidak diambil kebijakan diversifikasi bahan bakar dengan pemanfaatan energy terbaharukan.
Dalam rangka menjamin pasokan energi dalam negeri terutama penyediaanenergi bagi industri, transportasi dan rumah tangga, serta untuk pengembanganekonomi lebih lanjut, perlu dilakukan langkah-langkah penghematan danpengembangan diversifikasi energi, termasuk energi alternatif yang terbaharukan.Salah satu energi alternatif yang dapat dikembangkan adalah bahan bakar nabati(BBN) yang murah, dapat diperbaharui, aman dan ramah lingkungan seperti halnyabiodiesel.
Saat ini, sumber bahan bakar alternatif yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah sumber daya hayati atau biofuel. BahanBakuhayati untukbiofuel dapat berasal dari produk-produk dan limbah pertanian yang sangatberlimpah di Indonesia Di tengah kondisi finansial PLN yang kurang mendukung,pengadaan energi alternatif perlu dilakukan. Sejumlah alternatif pengadaan energy.
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono–alkyl ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan.
Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak dasar menjadi ester yang diinginkan dan membuang asam lemak bebas. Setelah melewati proses ini, tidak seperti minyak sayur langsung, biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel (solar) dari minyak bumi, dan dapat menggantikannya dalam banyak kasus. Namun, dia lebih sering digunakan sebagai penambah untuk diesel petroleum, meningkatkan bahan bakar diesel petrol murni ultra rendah belerang yang rendah pelumas.
Biodiesel merupakan kandidat yang paling baik untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia, karena biodiesel merupakan bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan diesel petrol di mesin sekarang ini dan dapat diangkut dan dijual dengan menggunakan infrastruktur zaman sekarang.
Penggunaan dan produksi biodiesel meningkat dengan cepat, terutama di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, meskipun dalam pasar masih sebagian kecil saja dari penjualan bahan bakar. Pertumbuhan SPBU membuat semakin banyaknya penyediaan biodiesel kepada konsumen dan juga pertumbuhan kendaraan yang menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar.
TINJAUAN PUSTAKA
Biodisel
Biodiesel adalah senyawa monoalkil ester yang diproduksi melalui reaksi tranesterifikasi antara trigliserida (minyak nabati, seperti minyak sawit, minyak jarak dll) dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis basa. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12 sampai 20 serta mengandung oksigen. Adanya oksigen pada biodiesel membedakannya dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya hanya terdiri dari hidrokarbon. Jadi komposisi biodiesel dan petroleum diesel sangat berbeda.
Biodiesel adalah bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat seperti minyak diesel atau solar. Sebelum biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar, biodiesel ini harus diproses lagi untuk menurunkan kekentalannya. Selain itu tangki bensin juga harus dilakukan perubahan agar biodiesel ini dapat berfungsi dengan baik sebagai bahan bakar pada kendaraan tersebut.  Namun jika kendaraan sudah bermesin diesel, maka bahan bakar biodiesel ini sudah dapat langsung digunakan.
Semua kendaraan keluaran baru dapat menggunakan biodiesel. Dalam kebanyakan kasus biodiesel tidak digunakan dalam bentuk murni (B100) melainkan dicampur dengan diesel standar. Hal ini terutama karena diesel standar lebih baik daripada biodiesel murni saat berurusan dengan suhu rendah dan juga diduga memiliki dampak yang lebih baik pada daya tahan mesin.
Biodiesel secara nyata dapat mengurangi pencemaran, mengurangi hidrokarbon yang tidak terbakar, karbonmonoksida, sulfat, polisiklikaromatik hidrokarbon, dan hujan asam. Sifat – sifat yang terdapat di biodiesel yaitu :
1.     Dapat Diperbarui (Renewable)
2.     Mudah terurai oleh bakteri (Biodegradable)
3.     Ramah Lingkungan
4.     Menurunkan emisi (CO, CO2, SO2)
5.     Menghilangkan asap hitam
6.     Sifat pelumasan lebih bagus
7.     Digunakan oleh mesin diesel
Bahan baku  yang digunakan untuk pengolahan biodiesel yaitu :
1. Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RPO) Merupakan minyak hasil kelapa sawit yang telah mengalami proses pemurnian di Revinery.
2. Methanol (CH3OH) merupakan senyawa alkohol yang digunakan sebagai pereaksi yang akan memberikan gugus alkil kepada rantai trigliserida dalam reaksi biodiesel.
3. Sodium Methylate (NaOCH3) digunakan sebagai katalis (zat yang digunakan untuk mempercepat reaksi),merupakan katalis basa karena mengandung alkalinity 30%.
4. Phosporic Acid (H3PO4) digunakan sebagai zat yang akan mengurangi kadar sabun dalam biodiesel, mengikat getah – getah (gum) dalam biodiesel, bersifat asam dengan kadar (>85%)
5. Hydrocloric Acid (HCl) digunakan dalam proses Reacrification I, berfungsi untuk memisahkan Fatty matter di dalam Heavy Phase (Glycerine – water – methanol) dengan kadar (>30%)
6. Caustic soda ( NaOH ) ini digunakan untuk penetral pembentukan glyserin Secara umum proses transesterifikasi trigliserida dengan metanol untuk menghasilkan metil ester (biodiesel) 

Dari beberapa bahan baku tersebut yang ada di Indonesia, yang mempunyaiprospek untuk diolah menjadi biodiesel adalah jarak pagar, kelapa dan sawit. Sawit mempunyai prospek yang lebih besar untuk pengolahan biodiesel dalamskala cukup besar karena industri sawit telah tersebar hampir diseluruh Indonesiadengan teknologi pengolahannya yang sudah mapan.Tingginya biaya produksi biofuel/biodiesel dari minyak nabati lainnya justrumenjadi keunggulan bagi pengembangan crude palm oil

 
(CPO) sebagai bahan bakar alternatif. Karena jika dibandingkan minyak nabati lain sebagai penghasilbahan bakar alternatif, penggunaan CPO sebagai raw material akan jauh lebih murah. Produksi minyak sawit(crude palm oil, CPO) Indonesia cukup besar dan meningkat tiap tahunnya
Perkembangan Luas Areal dan Produksi Minyak Sawit Periode 1999-2003
Menurut catatan BPPT, produksi CPO Indonesia pada 2003 mencapaitidak kurang dari 9 juta ton, dan setiap tahunnya mengalami kenaikan hingga15%.
Parameter Kualitas Biodisel
Beberapa parameter yang dijadikan sebagai acuan penentu kualitasbiodiesel adalah : angka cetane, viskositas, sifat bahan bakar pada temperature rendah (cloud point, pour point ), angka iodine, penyimpanan dan stabilitas, serta efek pelumasan (lubricant).
          
Angka Cetane
Angka cetane menunjukkan seberapa cepat bahan bakar mesin diesel yangdiinjeksikan ke ruang bakar bisa terbakar secara spontan (setelah bercampurdengan udara). Angka cetane pada bahan bakar mesin diesel memiliki pengertianyang berkebalikan dengan angka oktan pada bahan bakar mesin bensin, karenaangka oktan menunjukkan kemampuan campuran bensin-udara menunggurambatan api dari busi (spark ignition). Semakin cepat suatu bahan bakar mesindiesel terbakar setelah diinjeksikan ke dalam ruang bakar, semakin baik (tinggi)angka cetane bahan bakar tersebut.
Cara pengukuran angka cetane yang umum digunakan, seperti standard dariASTM D613 atau ISO 5165, adalah menggunakan hexadecane (C16H34, yang memiliki nama lain cetane) sebagai patokan tertinggi (angka cetane, CN=100),dan 2,2,4,4,6,8,8 heptamethylnonane (HMN yang juga memiliki komposisiC16H34) sebagai patokan terendah (CN=15) (Knothe, 2005). Dari standard tersebutbisa dillihat bahwa hidrokarbon dengan rantai lurus (straight chain) lebih mudah erbakar dibandingkan dengan hidrokarbon yang memiliki banyak cabang (branch). Angka cetane berkorelasi dengan tingkat kemudahan penyalaan padatemperatur rendah (cold start) dan rendahnya kebisingan pada kondisi idles (Environment Canada, 2006). Angka cetane yang tinggi juga diketahuiberhubungan dengan rendahnya polutan NOx (Knothe, 2005).
Secara umum, biodiesel memiliki angka cetane yang lebih tinggi dibandingkan dengan solar. Biodiesel pada umumnya memiliki rentang angkacetane dari 46 – 70, sedangkan (bahan bakar) Diesel No. 2 memiliki angka cetane47 – 55 (Bozbas, 2005). Panjangnya rantai hidrokarbon yang terdapat pada ester (fatty acid alkyl ester, misalnya) menyebabkan tingginya angka cetane biodieseldibandingkan dengan solar (Knothe, 2005). Azam dkk. (2005)
Viskositas
Viskositas merupakan sifat intrinsik fluida yang menunjukkan resistensifluida terhadap aliran. Perbedaan viskositas antara minyak mentah/refined fatty oil dengan biodiesel juga bisa digunakan sebagai salah satu indikator dalam proses produksi biodiesel (Knothe, 2005). Kecepatan alir bahan bakar melalui injektorakan mempengaruhi derajad atomisasi bahan bakar di dalam ruang bakar. Selainitu, viskositas bahan bakar juga berpengaruh secara langsung terhadapkemampuan bahan bakar tersebut bercampur dengan udara. Dengan demikian,viskositas bahan bakar yang tinggi, seperti yang terdapat pada SVO, tidak diharapkan pada bahan bakar mesin diesel. Oleh karena itulah penggunaan SVOsecara langsung pada mesin diesel menuntut digunakannya mekanisme pemanasbahan bakar sebelum memasuki sistem pompa dan injeksi bahan bakar (Bernardo,2003).
Cloud point dan Pour point
Cloud point adalah temperatur pada saat bahan bakar mulai tampak “berawan” (cloudy). Hal ini timbul karena munculnya kristal-kristal (padatan) didalam bahan bakar. Meski bahan bakar masih bisa mengalir pada titik ini,keberadaan kristal di dalam bahan bakar bisa mempengaruhi kelancaran aliranbahan bakar di dalam filter, pompa, dan injektor. Sedangkan pour point adalah temperatur terendah yang masih memungkinkan terjadinya aliran bahan bakar; dibawah pour point bahan bakar tidak lagi bisa mengalir karena terbentuknyakristal/gel yang menyumbat aliran bahan bakar. Dilihat dari definisinya, cloud  point terjadi pada temperatur yang lebih tinggi dibandingkan dengan pour point.
 Pada umumnya permasalahan pada aliran bahan bakar terjadi padatemperatur diantara cloud dan pour point; pada saat keberadaan kristal mulaimengganggu proses filtrasi bahan bakar. Oleh karena itu, digunakan metodepengukuran yang lain untuk mengukur performansi bahan bakar pada temperaturrendah, yakni Cold Filter Plugging Point (CFPP) di negara-negara Eropa(standard EN 116) dan Low-Temperature Flow Test (LTFT) di Amerika Utara(standard ASTM D4539) (Knothe, 2005).
Pada umumnya, cloud dan pour point  biodiesel lebih tinggi dibandingkandengan solar. Hal ini bisa menimbulkan masalah pada penggunaan biodiesel,terutama, di negara-negara yang mengalami musim dingin. Untuk mengatasi halini, biasanya ditambahkan aditif tertentu pada biodiesel untuk mencegahaglomerasi kristal-kristal yang terbentuk dalam biodiesel pada temperatur rendah.Selain menggunakan aditif, bisa juga dilakukan pencampuran antara biodiesel dansolar. Pencampuran (blending) antara biodiesel dan solar terbukti dapatmenurunkan cloud dan pour point bahan bakar (Environment Canada, 2006).
Teknik lain yang bisa digunakan untuk menurunkan cloud dan pour point bahan bakar adalah dengan melakukan ” winterization ” (Knothe, 2005). Padametode ini, dilakukan pendinginan pada bahan bakar hingga terbentuk kristal-kristal yang selanjutnya disaring dan dipisahkan dari bahan bakar. Proses kristalisasi parsial ini terjadi karena asam lemak tak jenuh memiliki titik bekuyang lebih rendah dibandingkan dengan asam lemak jenuh. Maka proses winterization sejatinya merupakan proses pengurangan asam lemak jenuh padabiodiesel. Di sisi lain, asam lemak jenuh berkaitan dengan angka cetane. Makaproses winterization bisa menurunkan angka cetane bahan bakar.
Namun demikian, karakteristik biodiesel pada temperatur rendah ini tidak terlalu menjadi masalah untuk negara dengan temperatur tinggi sepanjang tahun,seperti India (Azzam dkk., 2005).
Penyimpanan dan stabilitas
Biodiesel bisa mengalami degradasi bila disimpan dalam waktu yang lamadisertai dengan kondisi tertentu. Degradasi biodiesel pada umumnya disebabkanoleh proses oksidasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi degradasi biodiesel antara lain keberadaan asam lemak tak jenuh, kondisi penyimpanan(tertutup/terbuka, temperatur, dsb.), unsur logam, dan peroksida. Leung dkk.(2006) menemukan bahwa temperatur tinggi (40oC) yang disertai dengan keberadaan udara terbuka menyebabkan degradasi yang sangat signifikan pada penyimpanan biodiesel hingga 50 minggu. Konsentrasi asam meningkat pada biodiesel yang telah terdegradasi; hal ini disebabkan oleh putusnya rantai asam lemak metil ester menjadi asam-asam lemak. Mereka menemukan bahwa faktorkeberadaan air tidak terlalu signifikan mempengaruhi proses degradasi. Namundemikian, keberadaan air (yang terpisah dari biodiesel) bisa membantupertumbuhan mikroorganisme (Environment Canada, 2006). Temperatur tinggi(40oC) yang tidak disertai dengan keberadaan udara terbuka; dan sebaliknya udarater buka tanpa keberadaan temperatur tinggi, tidak menyebabkan degradasi yangsignifikan pada biodiesel yang disimpan dalam waktu lama (hingga 50 minggu).Dalam penelitiannya, Leung dkk. (2006) menggunakan rapeseed oil sebagaibahan baku biodiesel.
Kontak antara biodiesel dengan logam dan elastomer selama proses penyimpanan juga bisa mempengaruhi stabilitas biodiesel (Environment Canada,2006). Ditemukan bahwa logam tembaga (copper) memiliki efek katalis oksidasiyang paling kuat untuk biodiesel (Knothe, 2005). Oksidasi pada biodiesel bisamenyebabkan terbentuknya hidroperoksida yang selanjutnya terpolimerisasi danmembentuk gum; hal ini bisa menyebabkan penyumbatan pada filter atau saluranbahan bakar mesin diesel (Environment Canada, 2006). Standard Eropa, EN14214, mengatur uji stabilitas biodiesel terhadap oksidasi, yakni dengan caramemanaskan biodiesel pada 110o C selama tak kurang dari 6 jam (menggunakanmetode Rancimat) (Knothe, 2005)
Harga viskositas biodiesel juga bisa dijadikan sebagai ukuran terjadi-tidaknya proses degradasi pada biodiesel. Conceicao (2005) menemukan bahwa biodiesel minyak Castor yang digunakannya bisa mengalami degradasi, dicirikan dengan kenaikan viskositas yang sangat tinggi, bila dikenai temperatur yang sangat tinggi (210oC) dalam jangka waktu lebih dari 10 jam. Degradasi ini terjadididuga karena terjadinya proses oksidasi dan polimerisasi pada biodiesel.
Angka Iodine
Angka iodine pada biodiesel menunjukkan tingkat ketidakjenuhan senyawa penyusun biodiesel. Di satu sisi, keberadaan senyawa lemak tak jenuh meningkatkan performansi biodiesel pada temperatur rendah, karena senyawa inimemiliki titik leleh (melting point) yang lebih rendah (Knothe, 2005) sehinggaberkorelasi pada cloud dan pour point yang juga rendah. Namun di sisi lain,banyaknya senyawa lemak tak jenuh di dalam biodiesel memudahkan senyawa tersebut bereaksi dengan oksigen di atmosfer dan bisa terpolimerisasi membentuk material serupa plastik (Azam dkk., 2005). Oleh karena itu, terdapat batasan maksimal harga angka iodine yang diperbolehkan untuk biodiesel, yakni 115 berdasar standard Eropa (EN 14214). Di samping itu, konsentrasi asam linolenicdan asam yang memiliki 4 ikatan ganda masing-masing tidak boleh melebihi 12dan 1% (Azzam dkk., 2005).
Sebuah penelitian yang dilakukan di Mercedez-Benz (Environment Canada,2006) menunjukkan bahwa biodiesel dengan angka iodine lebih dari 115 tidak bisa digunakan pada kendaraan diesel karena menyebabkan deposit karbon yangberlebihan. Meski demikian, terdapat studi lain yang menghasilkan kesimpulanbahwa angka iodine tidak berkorelasi secara signifikan terhadap kebersihan danpembentukan deposit di dalam ruang bakar (Environment Canada, 2006).
Efek Pelumasan Mesin
Sifat pelumasan yang inheren pada solar menjadi berkurang manakala dilakukan desulfurisasi (pengurangan kandungan sulfur) akibat tuntutan standard solar di berbagai negara. Berkurangnya sifat pelumasan bahan bakar bisa
Pembuatan Biodisel
Pada pembuatan biodiesel, sebelum bahan baku (trigliserida) ditransesterifikasi dilakukan beberapa tahap pemurnian (refining). Tahap ini dimaksudkan untuk menghilangkan berbagai bahan yang tidak diinginkan seperti fosfatida, asam lemak bebas, lilin, tokoferol, zat warna dan zat pengotor lainnya yang dapat memperlambat reaksi. Tahap pemurnian ini terdiri atas proses degumming, netralisasi, pemucatan (bleaching) dan deodorasasi.
Proses degumming
Proses degumming dimaksudkan untuk menghilangkan getah atau lendir yang terdiri atas fostatida, protein, residu, karbohidrat dan air tetapi tidak dapat mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak. Fostatida pada minyak kelapa sawit (CPO) sebesar 0,60 persen. Fosfatida akan membuat minyak menjadi gelap (turbid) selama penyimpanan dan mengakibatkan berkumpulnya air pada produk ester. Biasanya pemisahan ini dilakukan dengan menambah air pada suhu 60-90 derajat Celsius dan diikuti sentrifugasi (pemusingan), kemudian ditambahkan larutan asam seperti asam fospat.
Netralisasi
Deasidifikasi dilakukan untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak, dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa sehingga membentuk sabun. Proses ini dimaksudkan untuk mencagah bau tengik pada produk.
 Pemucatan (bleaching) dan deodorisasi
Pemucatan (bleaching) dan deodorisasi untuk menghilangkan zat warna dan bahan berbau dari bahan berlemak. Pemucatan dilakukan dengan mencampurkan minyak dengan sejumlah kecil adsorben, seperti tanah pemucat (bleaching earth), bentonit, lempung aktif, arang aktif atau dapat juga menggunakan bahan kimia. Pemucatan ini merupakan cara konvensional dan proses pemurnian secara fisik. Pada proses pemucatan menggunakan adsorben, akan menyerap zat warna dari senyawa karoten, karotenoid, xantrofil dan klorofil.
Selain itu, pemucatan dapat mengurangi zat pengotor baik yang berasal dari minyak itu sendiri seperti protein, sterol, tokoferol, hidrokarbon, asam lemak bebas, peroksida dan sebagainya maupun zat pengotor akibat dari proses ekstraksi minyak dari tumbuhan. Pemucatan yang sering digunakan adalah gabungan dua adsorben seperti arang aktif dan bentonit dengan perbandingan 1:0 sampai 1:20. Sedangkan untuk proses penghilangan bau atau deodorisasi dapat dilakukan dengan cara distilasi uap. Setelah pemurnian, bahan baku (trigliserida) dapat langsung diproses menjadi biodiesel.
 
DESKRIPSI PROSES
Transesterification Section
Transesterifikasi adalah proses mengeluarkan gliserin dari minyak dan mereaksikan asam lemak bebasnya dengan alkohol (misalnya metanol) menjadi alkohol ester (Fatty Acid Methyl Ester/FAME), atau yang biasa disebut biodiesel. Agar reaksi ini dapat bereaksi maksimal maka kita gunakan methanol berlebih dan katalis cair yaitu sodium methylate. Pencampuran reaksi ini terjadi antara suhu 60-65 0C, secara actual kita mereaksikannya pada suhu 62 0C. Untuk menjaga suhu ini agar tetap stabil maka fluida dimasukkan terlebih dulu ke exchanger dan untuk menghasilkan reaksi yang homogen maka kita gunakan mixer kemudian fluida kita pompa ke reactor (coulum). Methanol dan sodium methylat kita dosing sebelum mixer, inilah yang dinamakan dosing stage-1. Dalam reaktor akan terbentuk phasa ringan (ligh phase)  dan phasa berat (heavy phase) dimana pemisahannya terjadi secara gravitasi. Phasa berat yang terbentuk akan dialirkan ke tangki heavy phase sementara phasa ringannya akan dimasukkan ke separator-1 dengan putaran 4500 rpm sehingga heavy phase yang masih terikat (mengemulsi) di ligh phase dapat dipisahkan. Ligh phase yang dihasilkan dari separator dialirkan ke coulum 3 dan 4 sementara heavy phasenya dimasukkan ke tangki heavy phase. Namun sebelum masuk ke coulum 3 dan 4 kita dosing lagi methanol dan sodium methylate (dosing stage-2) yang bertujuan untuk mereaksikan minyak (RPO) yang belum bereaksi.
Dalam hal ini suhu reaksi juga sangat penting untuk diprhatikan. Dalam coulum 3 dan 4 ini pemisahan ligh phase dan heavy phase juga terjadi secara gravitasi. Ligh phase  yang dihasilkan dari coulum-4 kemudian dimasukkan ke seperator-2 dimana fungsinya sama pada separator-1 yaitu memisahkan kembali phasa berat yang ada dari biodiesel.
Washing & Drying Section
Biodiesel yang dihasilkan dari separator-2 dialirkan ke mixer lalu ke seperator 3 dan 4. Dalam tahap ini akan kita lakukan washing untuk pemurnian PME. Untuk pemurnian PME ini kita gunakan dosing phosporic acid dengan menjaga PH air pencuci adalah 2. Pemurnian crude metil ester dilakukan dengan dua tahap pencucian, yang disebut dengan methode counter current. Maksud dari aliran counter current disini adalah air pencuci separator final (sep # 4) yang merupakan heavy phase digunakan kembali untuk air pencuci separator # 3,namun disini harus di jaga PH separator final 3 – 4. Tujuan ditambahkan air pencuci adalah untuk menghentikan reaksi dan mengikat gum-gum maupun methanol yang terkandung dalam biodiesel. setelah itu phase ringan yang berasal dari separator 4 dialirakan ke tangki PME (PME intermedite tank). Dari tangki ini kita pompakan ke vacum dryer dengan temperaturnya berkisar antara 135 oC-137 oC. Untuk mendapatkan temperatur tersebut maka kita masukkan terlebih dahulu ke heat exchanger yang bertujuan untuk memudahkan vacum menarik uap air dalam biodiesel itu sendiri.Selain itu vacum juga berfungsi untuk menguragi kadar methanol dan soap dalam metil ester. Setelah dari PME dryer minyak biodiesel dipompakan ke economizer lalu didinginkan dalam exchanger cooler dan kemudian di timbun ke tangki biodiesel (PME Storage Tank)
Rectyfication Section
Pada proses ini heavy phase yang berasal dari fase berat keluaran separator berupa glyserin-metahanol-air dialirkan ke reaktor mixer tetapi sebelumnya ditambahkan HCl supaya terjadi netralisasi dari sodium methylate  didalam campuran dan menjaganya dalam kondisi asam (PH 3-4),di dalam reaktor mixer dijamin terjadinya reaksi yang Sempurna, kemudian campuran ini dialirkan ke split box (fatty acid separator) yang terdiri dari beberapa ruang sebagai tempat untuk pemisahan fatty acid. Fatty acid yang berada pada lapisan atas dialirkan ke kolom fatty matter dengan tekanan vacum dimana hasil fatty matter dialirkan ketangki penampungan akhir TK90151-90152. Dari split box setelah terpisah dari fatty acid, glyserin metahnol dan air dialirkan kekolom distilasi yang sebelumnya di injeksikan dengan caustic soda (sodium hydroxide) untuk menjaga kondisi netral PH 6-7, pada kolom distilation ini suhu top dijaga 65 C dan bottom 107 C dimana uap metahnol yang keluar dari top kolom di kondensasi ketangki methanol sementara dan sebagaian ada yang dijadikan refluks dan di alirkan ketangki raw material untuk digunakan kembali pada tahap transesterification section, produk bottom berupa glyserin dan air  recovery dipompa ketangki crude glyserin sementara.
 Glyserin – Water Evaporation Section
Pada section ini crude gliserin diproses didalam evaporator dimana evaporator yang digunakan disini adalah triple efek untuk menghilangkan kadar air yang ada didalam crude gliserin sehingga dapat dihasilkan crude gliserin sebesar 80%. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh suhu maka dalam proses ini disetting suhu maksimum 145 0C ini pun tergantung flow dari crude gliserin tersebut.multi effect evaporator yang terdiri dari beberapa pemisahan bagian yang dilengkapi dengan sistem cairan sirkulasi digunakan untuk mengkonsentrasikan glycerin-air,dimana hasil produk gliserin ini disimpan ditangki penyimpanan sementara sebelum adanya pengapalanterhadap konsumen.
Faktor utama yang mempengaruhi rendemen metil ester yang dihasilkan pada reaksi transesterifikasi adalah rasio molar antara trigliserida dan alkohol, jenis katalis yang digunakan, suhu reaksi, waktu reaksi, kandungan air, dan kandungan asam lemak bebas. Besarnya kandungan asam lemak yang terkandung dalam trigliserida bergantung pada penggunaan minyak jelantah dalam penggorengan. Penggunaan minyak jelantah bekas penggorengan bahan makanan yang mengandung banyak lemak atau protein akan meningkatkan kandungan asam lemak dalam trigliserida yang akan mempengaruhi reaksi.
Selain itu, suhu yang terlalu tinggi pada saat proses transesterifikasi bisa menyebabkan minyak berbusa karena terjadi reaksi penyabunan yang disebabkan oleh NaOH yang bereaksi dengan minyak pada suhu tinggi. Umumnya suhu reaksi ideal pada transesterifikasi ini antara 50o-60oC. Selain itu, proses pemurnian dan penyaringan juga bisa mengurangi jumlah metil ester yang dihasilkan. Proses bleaching yang terlalu lama bisa menyebabkan minyak dan air teremulsi dan sulit dipisahkan karena antara asam lemak, minyak, dan air akan saling terikat.
Pada proses akhir (purifikasi) dimana metil ester dipanaskan, akan terjadi penguapan air dan sisa metanol yang tidak ikut bereaksi. Metanol dan air ini perlu dihilangkan untuk mencegah kerusakan mesin ketika proses pembakaran biodiesel dalam mesin. Metil ester yang baik memiliki pH netral (6-8). pH yang terlalu asam atau basa bisa menyebabkan kerusakan pada tangki bahan bakar apabila biodiesel ini digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *